Untuk membantu pemasaran obat-obatan, perusahan farmasi harus menunjukkan bahwa hasilnya lebih baik daripada Efek Placebo. Namun, kadangkala Efek Placebo jauh lebih ampuh dari obat yang sesungguhnya. Hal ini telah menjadi misteri yang cukup lama bagaimana tubuh kita kok bisa-bisanya terpengaruh oleh obat palsu (gadungan, Efek Placebo), namun para ilmuwan telah banyak melakukan pelitian yang semakin mendekati pemecahan misteri ini, ternyata ada sebuah gen tertentu yang bertanggung-jawab (nach lo…) pada satu tipe Efek Placebo!

Efek Placebo bekerja karena pasien-pasien (sangat) percaya bahwa mereka menerima perawatan yang sesunguhnya. Mengharapkan perawatan sama halnya dengan mengharapkan penghargaan, sebagaimana telah ditunjukkan dalam berbagai macam penelitian, dan pengharapan penghargaan tersebut telah memicu pembebasan neurotransmitter dopamine dalam otak, yang membantu mengurangi gejala-gejala sakit dan depresi kronis. Lantas bagaimana Efek Placebo untuk kondisi-kondisi lainnya?

Tomas Furmark, seorang psikolog dari Universitas Uppsala di Swedia, menduga bahwa suatu neurotransmitter yang berbeda memegang peranan penting dalam tanggap Placebo pada gejala SAD atau Social Anxiety Disorder - suatu ketakutan yang tidak wajar karena merasa dihakimi (dinilai) orang lain. Studi citra otak (gambar dibawah) menunjukka bahwa amigdala, suatu area di otak yang mengatur tanggap ketakutan, aktif secara tidak wajar pada pasien-pasien SAD. Orang sehat dengan variasi tertentu dari dua gen yang mengatur neurotransmitter serotonin memilliki lebih banyak amigdala yang aktif.

Efek yang nyata: Pasien dengan sebuah salinan gen serotonin menunjukkan aktivitas amigdala yang lebih sedikit (kiri),hal ini menunjukkan adanya penurunan kecemasan, setelah pasien dikenai perlakuan efek Placebo. (Sumber: T. Furmark et al., Journal of Neuroscience)

Berdasar hasil ini, Furmark bersama koleganya - bekerja sama dengan perusahaan farmasi GlaxoSmithKline - menjalankan percobaan terkedali-placebo terhadap 108 pasien yang telah teridentifikasi sebelumnya menderita SAD. Para sukarelawan tersebut secara acak menerima baik pengobatan serotonin baru atau pil gula selama 8 minggu. Pada awal percobaan, pasien diminta untuk mempersiapkan dan melakukan pidato di depan sejumlah orang - suatu pemicu kecemasan - selama pidato dilakukan perekaman aktivitas amigdala menggunakan tomografi emisi positron. Teknik ini membolehkan para ilmuwan untuk merekam atau memantau aliran darah - dan sekaligus aktivitas - di beberapa area otak yang berbeda. Di akhir masa perawatan, mereka juga diminta untuk melakukan pidato (lagi), sehingga para ilmuwan bisa mendeteksi apakah pola aktivitas otaknya berubah.

Bahkan gula telah cukup untuk mengatasi beberapa kasus. Dari 25 pasien yang menerima placebo, 10 dilaporkan kegelisahan-nya berkurang pada akhir kajian. (Jumlah kelompok perlakuan tidak diberitahukan karena percobaan ini maish berlangsung.) Pindaian Otak selama pidato yang kedua menunjukkan amygdala mereka menjadi kurang aktif. Analisis genetik menunjukkan bahwa delapan orang yang mendapat bantuan dari placebo memiliki versi tertentu dari sebuah gen yang mengatur produksi serotonin disebut tryptophan hydroxylase promotor-2 (TPH2). Ini adalah salah satu varian genetik yang sama terkait dengan aktivitas di amygdala orang sehat. TPH2 adalah tanda pertama genetik yang terikat pad respon placebo apapun, demikian tim melaporkan.

Mencari tanda-tanda genetik untuk efek placebo dapat menimbulkan pertanyaan tentang etika yaitu bagaimana perusahaan mendesain uji klinis, tanya Furmark. Misalnya, “dapat menjadi godaan untuk menayangkan semua individual dan … memilih hanya mereka yang nonresponsive phenotype [terhadap percobaan].”

Psikiater Helen Mayberg dari Universitas Emory di Atlanta, Georgia, yang telah mempelajari Efek Placebo pada depresi, setuju bahwa penemuan tersebut dapat berimplikasi pada rancangan penelitian. Tetapi, awalnya dibutuhkan lebih banyak riset untuk menentukan apakah tanda genetik untuk placebo berasal dari SAD dapat disamaratakan untuk penyakit lainnya dan gen-gen lain apa saja yang ikut berkontribusi terhadap fenomena tersebut, ujarnya.

Diterjemahkan bebas dari…

  • Rachel Zelkowitz, The Placebo Effecr: Not All in Your Head, ScienceNOW Daily News, 2 December 2008

Semoga bermanfaat…!

Tags: , , ,

4 Responses to “Efek Placebo: Tidak Semuanya ada di Kepala Anda”

  1. Para ilmuwan itu memang selalu serius dan total kalo pengen tahu sesuatu. Hebatnya lagi, mereka selalu punya metode jitu dalam proses penelitian, analisa, reportase, dan implementasi hasilnya.

    Salut sama bahan bacaan Mas.

    :)

    Rgds,
    Chandra MDE
    http://chandramde.wordpress.com

  2. Ijin copas.. Ilmu yang sangat berguna untuk menambah pengetahuan kita bagaimana mengenal cara kerja otak kita. Sang Maha Pemilik Ilmu, ilmunNYA memang benar-benar luaaaas, tak terbatas… Ilmu yang diketemukan manusia selalu berkembang dan berkembang dan akan terus berkembang.. Penemuan selama penelitian ini, merupakan salah satu pembuktian terasahnya akal manusia…
    Thanx telah berbagi ilmu.

  3. Efek PLacebo = Sugesti tngkat tinggi

  4. Efek PLacebo = Sugesti tingkat tinggi

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>